Posted by
Muhammad Refel H
Budaya Kita : Budaya Sunda
Budaya
Sunda
1.
Penjelasan Budaya Sunda
Budaya Sunda adalah budaya yang
tumbuh dan hidup dalam masyarakat Sunda. Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang
sangat menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat Sunda
adalah periang, ramah-tamah (someah), murah senyum, lemah-lembut, dan
sangat menghormati orangtua.
Itulah cermin budaya masyarakat Sunda. Di dalam bahasa Sundadiajarkan bagaimana menggunakan bahasa halus untuk
berbicara dengan orang yang lebih tua.Bahasa yang digunakan di Sunda adalah Bahasa Sunda.
2. Nilai
– nilai Budaya
Kebudayaan Sunda memiliki ciri khas
tertentu yang membedakannya dari kebudayaan–kebudayaan lain. Secara umum
masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda, dikenal sebagai masyarakat yang lembut,
religius, dan sangat spiritual. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam
pameo silih asih, silih asah dan silih asuh ; saling mengasihi (mengutamakan sifat welas asih), saling
menyempurnakan atau memperbaiki diri (melalui pendidikan dan berbagi ilmu), dan
saling melindungi (saling menjaga keselamatan). Selain itu Sunda juga memiliki
sejumlah nilai-nilai lain seperti kesopanan, rendah hati terhadap sesama,
hormat kepada yang lebih tua, dan menyayangi kepada yang lebih kecil. Pada
kebudayaan Sunda keseimbangan magis di pertahankan dengan cara melakukan
upacara-upacara adat sedangkan keseimbangan sosial masyarakat Sunda melakukan
gotong-royong untuk mempertahankannya.
3. Kesenian
Budaya Sunda
I.
Seni Bangunan/Rumah Adat
Rumah Adat di Sunda
bermodelkan Keraton Kesepuhan Cirebon yang memiliki empat
·
Pendopo
(tempat untuk keselamatan sultan)
·
Pringgodani
(tempat sultan memberi perintah kepada adipati)
·
Prabayasa
(tempat sultan menerima tamu)
·
Penembahan
(ruang kerja dan tempat istirahat sultan)
Nama
– nama tempat di Sunda kebanyakan menggunakan kata depan “Ci” yang artinya
air,misal ; Ciamis,Cisaat,Cibatu,Cicurug,Cianjur.
II.
Seni Tari
Tari yang populer di
Sunda adalah tari Jaipong,yaitu paduan tari ketuk tilu dan tari gendong pencok.Seni
tari imi merupakan salah satu daya tarik di tanah Parahiyangan.Tari yang lain
yaitu tari Kuncoran,tari Kupu – kupu dan tari Rimlong.
III.
Seni Musik/Alat Musik Tradisional
·
Angklung
·
Calung
·
Kecapi
·
Degung
Alat Musik diatas
digunakan untuk mengiringi tembang dan kawih.Tembang adalah puisi yang diiringi
kecapi dan suling.Kawih adalah lagu bebas yang diiringi dengan angklung dan
calung.
IV.
Seni Sastra
Sunda kaya akan seni
sastra, misalnya Prabu Siliwangi yang diungkapan dalam bentuk pantung,dan Si
Kabayan dan Sangkuriang yang diungkapkan dalam bentuk prosa.
V.
Seni Pertunjukkan
Pertunjukkan yang
populer di Sunda adalah Wayang Golek.Wayang Golek adalah boneka yang terbuat
dari kayu dengan penampilan yang sangat menarik dan atraktif.Sisingaan,adalah
kesenian khas sunda yang menampilkan 2-4 boneka singa yang diusung oleh para
pemainnya sambil menari.Sisingaan sering digunakan dalam acara tertentu khususnya
Sisingaan.
VI.
Lagu – lagu daerah Sunda
·
Bubuy
Bulan.
·
Bajing
Luncat
·
Cingcangkeling
·
Es
Lilin
·
Manuk
Dadali
·
Neng
Geulis
·
Nenun
·
Panon
Hideung
·
Pepeling
·
Peuyeun
Bandung
·
Pileuleuyan
4.
Etos
Budaya
Kebudayaan Sunda
termasuk salah satu kebudayaan tertua di Nusantara.
Kebudayaan Sunda yang ideal kemudian sering kali dikaitkan sebagai kebudayaan
masa Kerajaan Sunda. Ada beberapa ajaran dalam budaya Sunda tentang
jalan menuju keutamaan hidup. Etos dan watak Sunda itu adalahcageur, bageur, singer dan pinter,
yang dapat diartikan "sembuh" (waras), baik, sehat (kuat), dan
cerdas. Kebudayaan Sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi
sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu di
lestarikan. Sistem kepercayaan spiritual tradisional Sunda adalah Sunda Wiwitan yang
mengajarkan keselarasan hidup dengan alam. Kini, hampir sebagian besar
masyarakat Sunda beragama Islam,
namun ada beberapa yang tidak beragama Islam, walaupun berbeda namun pada
dasarnya seluruh kehidupan di tujukan untuk kebaikan di alam semesta.
5.
Kesimpulan
Dalam Artikel ini saya jadi bisa
memahami Budaya Sunda,dan bisa lebih menjaganya.
Anak bangsa juga seharusnya dapat mempelajari budaya budaya negeri ini agar tidak mudah dicuri oleh negara lain.
Anak bangsa juga seharusnya dapat mempelajari budaya budaya negeri ini agar tidak mudah dicuri oleh negara lain.
Posted by
Muhammad Refel H
Beberapa Adat Suku Sunda
Budaya Sunda, dikenal sebagai budaya yang menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya budaya Sunda memiliki karakter ramah, mudah senyum, sopan, lembut dan sangat hormat kepada orang tua. Didalam budaya Sunda, mereka diajarkan bagaimana berbicara lembut terhadap orang yang lebih tua.
Kebudayaan Sunda merupakan salah satu budaya tertua yang ada di nusantara, Sistem kepercayaan spiritual tradisional Sunda adalah Sunda Wiwitan yang mengajarkan keselarasan hidup dengan alam. Terdapat beberapa ajaran budaya Sunda tentang jalan menuju keutamaan hidup. Etos dan watak Sunda itu adalah cageur, bageur, singer dan pinter, yang dapat diartikan "sembuh" (waras), baik, sehat (kuat), dan cerdas.
Kebudayaan Sunda memiliki macam-macam seni dan budaya, diantaranya:
![]() |
| Wayang Golek |
1. Wayang Golek
Golek yaitu merupakan semacam boneka yang terbuat dari kayu yang ditampilkan dan membawakan alur cerita bersejarah. Wayang Golek ini dimainkan oleh seorang Dalang dan diiringi oleh nyanyian serta iringan musik tradisional Jawa Barat yang biasa disebut Degung.
2. Degung
![]() |
| Degung |
![]() |
| Kuda Renggong |
Kesenian Degung biasanya digunakan untuk musik pengiring/pengantar. Degung ini merupakan gabungan dari peralatan khas kesenian Jawa Barat yaitu, gendang, goong, kempul, saron, bonang, kacapi, suling, rebab, dan sebagainya.
3.Kuda Renggong
Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian helaran yang terdapat diKabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara penyajiannya yaitu, seekor kudaatau lebih di hias warna-warni, budak sunat dinaikkan ke atas punggung kuda tersebut,Budak sunat tersebut dihias seperti seorang Raja atau Satria, bisa pula meniru pakaian para Dalem Baheula, memakai Bendo, takwa dan pakai kain serta selop.
Sumber : http://kalistaoctavia.blogspot.com
Posted by
Muhammad Refel H
HOT : Efek Samping Masturbasi
Onani/masturbasi adalah kegiatan untuk memuaskan syahwat dengan cara mengeluarkan “secara paksa” air mani. Onani/masturbasi bisa dilakukan oleh pria maupun wanita. Secara syar’i Onani/masturbasi termasuk perbuatan yang diharamkan oleh syari’at dan merupakan perbuatan dosa.
Dalam bahasa Indonesia Masturbasi memiliki beberapa istilah yaitu onani atau rancap, yang maksudnya perangsangan organ sendiri dengan cara menggesek-geseknya melalui tangan atau benda lain hingga mengeluarkan sperma dan mencapai orgasme. Sedangkan bahasa gaulnya adalah coli atau main sabun yaitu kegiatan yang dilakukan seseorang dalam memenuhi kebutuhan seksualnya, dengan menggunakan tambahan alat bantu sabun atau benda-benda lain, sehingga dengannya dia bisa mengeluarkan mani(ejakulasi).Tujuan utama dari masturbasi adalah untuk mencari kepuasan atau melepas keinginan nafsu seksual dengan jalan tidak bersenggama. Dalam islam masturbasi dikenal dengan beberapa nama yaitu, al-istimna’ al-istimna’ billkaff, nikah al-yad, jildu umairah, al-i’timar atau‘adatus sirriyah. Masturbasi yang dilakukan oleh wanita, disebut al-ilthaf.
Masturbasi yang terlalu sering bisa memicu aktivitas berlebih pada saraf parasimpatik. Dampaknya adalah produksi hormon-hormon dan senyawa kimia seks meningkat teramasuk asetilkolin, dopamin dan serotonin. Ketidakseimbangan kimiawi yang terjadi akibat hobi masturbasi yang terlalu sering bisa memicu berbagai macam gangguan kesehatan antara lain sebagai berikut:
1. Kemampuan ereksi melemah dan ImpotensiGangguan pada saraf parasimpatik bisa mempengaruhi kemampuan otak dalam merespons rangsang seksual. Akibatnya kemampuan ereksi melemah, bahkan pada tingkat yang parah bisa menyebabkan impotensi yakni gangguan seksual yang menyebabkan penis tidak bisa berdiri sama sekali.
2. Kebocoran katup air mani
Kemampuan saluran air mani untuk membuka dan menutup pada waktu yag tepat juga terganggu. Akibatnya sperma dan air mani tidak hanya keluar saat ereksi, lendir-lendir tersebut bisa juga keluar sewaktu-waktu seperti ingus sekalipun penis sedang dalam kondisi lemas.
Kemampuan saluran air mani untuk membuka dan menutup pada waktu yag tepat juga terganggu. Akibatnya sperma dan air mani tidak hanya keluar saat ereksi, lendir-lendir tersebut bisa juga keluar sewaktu-waktu seperti ingus sekalipun penis sedang dalam kondisi lemas.
3. Rambut rontok dan KebotakanDampak lain dari ketidakseimbangan hormon yang terjadi jika terlalu sering masturbasi adalah kerontokan rambut. Jika tidak diatasi, lama-kelamaan akan memicu kebotakan atau penipisan rambut pada pria.
Sangatlah jelas bahwa akibat negatif dari melakukan masturbasi dapat menyebabkan tubuh menjadi lemah dan loyo sehingga aktifitas kerja akan terganggu dan menjadi tidak produktif lagi. Setiap kali tubuhnya mengejang karena orgasme, pria akan kehilangan cukup banyak energi karena hampir semua otot akan mengalami kontraksi. Akibatnya jika terlalu sering, pria akan kehilangan gairah untuk beraktivitas dan cenderung akan merasa ngantuk sepanjang hari.
Selain itu kontraksi otot saat mengalami orgasme bisa memicu nyeri otot, terutama di daerah punggung dan selangkangan. Bagi yang melakukannya dengan tangan kosong tanpa pelumas, rasa nyeri juga bisa menyerang penis karena gesekan yang terjadi bisa menyebabkan lecet-lecet.
Apakah efek samping onani memakai sabun?
Beberapa jenis sabun mengandung zat yang bersifat menimbulkan rangsangan pada lapisan dalam kulit dan bersifat terlalu kuat untuk lapisan dalam kulit, sehingga menimbulkansemacam luka lecet, iritasi dan luka pada organ reproduksi anda.
Apa Solusinya?
Apabila kita menyibukkan diri dengan melakukan aktivitas yang seimbang antara fisik, mental dan spiritual saya yakin dorongan seksual akan teralihkan. Hindari melihat atau membaca buku, majalah, atau website yang berisikan konten haram pornografi. Dengan demikian kita tidak akan selalu terangsang, sehingga dapat menahan diri untuk tidak selalu melakukan onani. Perbanyak shaum sunnah sebagai metode yang dicontohkan oleh Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk mengekang syahwat.
Jika anda masih berat meninggalkan kebiasaan onani/masturbasi maka segeralah menikah sebagai solusi terbaik untuk menghilangkan kebiasaan buruk tersebut.
KESIMPULAN
- Onani/masturbasi secara medis berbahaya bagi kesehatan akibat aktifitas yang berlebihan dari syaraf-syaraf tertentu sehingga menimbulkan ketidakseimbangan hormonal.
- Beberapa akibat efek samping onani adalah impotensi/lemah syahwat, kebocoran katup air mani dan rambut rontok/kebotakan. Onani juga menyebabkan tubuh lemah, loyo dan nyeri otot punggung dan selangkangan sehingga produktifitas kerja menjadi berkurang.
- Islam mengajarkan untuk bershaum atau menikah sebagai bentuk solusi agar gejolak syahwat bisa teratasi.
Sumber: Majalah Konsultasi kita edisi perdana
Posted by
Muhammad Refel H
Fakta Banjir Jakarta
1. Banjir Jakarta adalah cerita berabad-abad.
Banjir bukan cerita baru di Jakarta. Kota ini bahkan tercatat pernah dilanda banjir besar pada tahun 1621. Air sudah bolak-balik menerjang ketika Jakarta masih bernama Batavia, yaitu tahun 1654 dan 1878.
Pada Januari-Februari 1918, berbagai kawasan di Jakarta juga terendam banjir karena meluapnya Sungai Ciliwung. Semenjak itu, banjir semakin rutin terjadi, termasuk juga ketika Jakarta dipimpin Ali Sadikin yaitu tahun 1976.
2. Rentang waktu terjadinya banjir besar di Jakarta semakin pendek.
Seperti terungkap dalam artikel “10 Mitos Air dan Banjir di Jakarta”, siklus banjir besar lima tahunan di Jakarta hanyalah mitos. Banjir besar bukan siklus, melainkan kejadian acak yang tidak dapat dipastikan akan datang setiap berapa tahun. Angka lima tahun adalah angka statistik yang bisa saja menjadi sepuluh, tiga, atau bahkan satu. Angka tersebut bergantung pada kondisi alam dan kualitas manajemen banjir di Jakarta.
3. Ada empat variabel yang menyebabkan terjadinya banjir di Jakarta.
Variabel-variabel itu adalah 1) jumlah limpasan air dari kawasan hulu; 2) limpasan air di Jakarta sendiri; 3) tinggi permukaan air laut; dan 4) tinggi permukaan tanah.
Limpasan air dari Bogor mencapai 37 juta meter kubik per tahun. Sementara di Jakarta sendiri, dari 2 miliar meter kubik air hujan per tahun, hanya 26,6 persen yang terserap ke dalam tanah. Sisanya alias 73,4 persen (1.468.000.000) meter kubik merupakan air limpasan yang langsung mencari laut.
Di sisi lain, hampir 40 persen wilayah di Jakarta berada di bawah permukaan laut. Kondisi ini diperparah dengan terus menurunnya permukaan tanah mencapai 18 cm/tahun (berdasarkan penelitian Hasanuddin Z. Abidin, 2008), dan meningkatnya tinggi permukaan air laut hingga 8 mm/tahun (berdasarkan penelitian Sutisna S., dkk, 2002).
4. Ada empat macam status kondisi bencana banjir di Jakarta.
Istilah siaga I (kritis), siaga II (waspada), siaga III (rawan), dan siaga IV (normal) santer terdengar seiring pemberitaan media. Siaga, berdasarkan buku Dinas PU DKI, adalah suatu sikap atau tingkat kemampuan untuk menghalangi dan atau mengelola suatu bahaya dalam rangka mengurangi dampaknya yang mungkin terjadi dan menimpa mereka.
Pada bencana banjir, status siaga ditentukan berdasarkan pengamatan tinggi muka air (TMA) pada stasiun pengamatan dan pintu air. Siaga IV adalah status paling awal, sementara siaga I adalah status paling gawat. Setiap titik pengamatan memiliki standar siaga masing-masing. Status siaga I, misalnya, diberikan pada Katulampa apabila TMA melebihi dua meter; sementara status tersebut diberikan pada Manggarai apabila TMA melebihi 9,5 meter.
Selain untuk kemudahan komunikasi, perbedaan status siaga memiliki konsekuensi pergantian komando. Contohnya pada siaga I, komando akan berpindah ke Gubernur DKI Jakarta.
5. Data 14 titik pengamatan tinggi muka air bisa diakses langsung oleh publik.
Pemerintah DKI Jakarta mempunyai 14 titik pengamatan yang mengawasi tinggi muka air di berbagai lokasi. Titik-titik tersebut yaitu Katulampa, Pesanggrahan, Angke Hulu, Cipinang Hulu, Sunter Hulu, Depok, Manggarai, Karet, Waduk Pluit, Pasar Ikan, Pulo Gadung, Sunter Utara, Sunter Selatan, dan Krukut Hulu. Data pantauan tinggi muka air yang diperbarui setiap jam bisa dilihat di situs resmi Provinsi DKI Jakarta.
Informasi ini sangat penting untuk warga yang tinggal di tempat-tempat rawan banjir. Ketika misalnya status siaga meningkat pada Katulampa, maka warga Kampung Pulo dan Bukit Duri akan segera bersiap-siap, karena sekitar delapan jam kemudian air dari Katulampa akan tiba di tempat mereka.
6. Dari 226 situ di Jabodetabek, hanya 33 dalam kondisi baik.
Situ berperan penting untuk menampung dan menyerap air hujan. Berdasarkan data dari PKSA Ciliwung-Cisadane tahun 2008, di Jabodetabek terdapat 226 situ. Sayangnya, hanya 33 situ yang berada dalam kondisi baik. Sebanyak 144 berada dalam kondisi rusak, dan 49 berada dalam kondisi rehab.
Banyak juga situ-situ yang terancam menyempit atau bahkan hilang sepenuhnya, karena berubah menjadi kawasan perumahan.
7. Akar masalah banjir di Jakarta adalah terjadinya perubahan fungsi lahan tanpa memperhatikan kondisi ekosistem yang lestari.
Baik di kawasan hulu seperti Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang, maupun di kawasan hilir seperti Penjaringan, terjadi perubahan fungsi lahan besar-besaran yang mengabaikan keberlanjutan ekosistem. Berbagai kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta berubah menjadi kawasan perumahan maupun pusat perbelanjaan. Ini menyebabkan area resapan di Jakarta menyusut drastis.
Peraturan pemerintah Jakarta yang mewajibkan setiap pihak yang mendirikan bangunan untuk membuat sumur resapan juga kerap dilanggar. Selain itu, banyak juga pemilik rumah yang membuat perkerasan semen pada seluruh halaman rumah, sehingga air tidak bisa terserap ke dalam tanah. Secara akumulatif, semua ini memperparah banjir di Jakarta.
Sumber : Yahoo.com
Banjir bukan cerita baru di Jakarta. Kota ini bahkan tercatat pernah dilanda banjir besar pada tahun 1621. Air sudah bolak-balik menerjang ketika Jakarta masih bernama Batavia, yaitu tahun 1654 dan 1878.
Pada Januari-Februari 1918, berbagai kawasan di Jakarta juga terendam banjir karena meluapnya Sungai Ciliwung. Semenjak itu, banjir semakin rutin terjadi, termasuk juga ketika Jakarta dipimpin Ali Sadikin yaitu tahun 1976.
2. Rentang waktu terjadinya banjir besar di Jakarta semakin pendek.
Seperti terungkap dalam artikel “10 Mitos Air dan Banjir di Jakarta”, siklus banjir besar lima tahunan di Jakarta hanyalah mitos. Banjir besar bukan siklus, melainkan kejadian acak yang tidak dapat dipastikan akan datang setiap berapa tahun. Angka lima tahun adalah angka statistik yang bisa saja menjadi sepuluh, tiga, atau bahkan satu. Angka tersebut bergantung pada kondisi alam dan kualitas manajemen banjir di Jakarta.
3. Ada empat variabel yang menyebabkan terjadinya banjir di Jakarta.
Variabel-variabel itu adalah 1) jumlah limpasan air dari kawasan hulu; 2) limpasan air di Jakarta sendiri; 3) tinggi permukaan air laut; dan 4) tinggi permukaan tanah.
Limpasan air dari Bogor mencapai 37 juta meter kubik per tahun. Sementara di Jakarta sendiri, dari 2 miliar meter kubik air hujan per tahun, hanya 26,6 persen yang terserap ke dalam tanah. Sisanya alias 73,4 persen (1.468.000.000) meter kubik merupakan air limpasan yang langsung mencari laut.
Di sisi lain, hampir 40 persen wilayah di Jakarta berada di bawah permukaan laut. Kondisi ini diperparah dengan terus menurunnya permukaan tanah mencapai 18 cm/tahun (berdasarkan penelitian Hasanuddin Z. Abidin, 2008), dan meningkatnya tinggi permukaan air laut hingga 8 mm/tahun (berdasarkan penelitian Sutisna S., dkk, 2002).
4. Ada empat macam status kondisi bencana banjir di Jakarta.
Istilah siaga I (kritis), siaga II (waspada), siaga III (rawan), dan siaga IV (normal) santer terdengar seiring pemberitaan media. Siaga, berdasarkan buku Dinas PU DKI, adalah suatu sikap atau tingkat kemampuan untuk menghalangi dan atau mengelola suatu bahaya dalam rangka mengurangi dampaknya yang mungkin terjadi dan menimpa mereka.
Pada bencana banjir, status siaga ditentukan berdasarkan pengamatan tinggi muka air (TMA) pada stasiun pengamatan dan pintu air. Siaga IV adalah status paling awal, sementara siaga I adalah status paling gawat. Setiap titik pengamatan memiliki standar siaga masing-masing. Status siaga I, misalnya, diberikan pada Katulampa apabila TMA melebihi dua meter; sementara status tersebut diberikan pada Manggarai apabila TMA melebihi 9,5 meter.
Selain untuk kemudahan komunikasi, perbedaan status siaga memiliki konsekuensi pergantian komando. Contohnya pada siaga I, komando akan berpindah ke Gubernur DKI Jakarta.
5. Data 14 titik pengamatan tinggi muka air bisa diakses langsung oleh publik.
Pemerintah DKI Jakarta mempunyai 14 titik pengamatan yang mengawasi tinggi muka air di berbagai lokasi. Titik-titik tersebut yaitu Katulampa, Pesanggrahan, Angke Hulu, Cipinang Hulu, Sunter Hulu, Depok, Manggarai, Karet, Waduk Pluit, Pasar Ikan, Pulo Gadung, Sunter Utara, Sunter Selatan, dan Krukut Hulu. Data pantauan tinggi muka air yang diperbarui setiap jam bisa dilihat di situs resmi Provinsi DKI Jakarta.
Informasi ini sangat penting untuk warga yang tinggal di tempat-tempat rawan banjir. Ketika misalnya status siaga meningkat pada Katulampa, maka warga Kampung Pulo dan Bukit Duri akan segera bersiap-siap, karena sekitar delapan jam kemudian air dari Katulampa akan tiba di tempat mereka.
6. Dari 226 situ di Jabodetabek, hanya 33 dalam kondisi baik.
Situ berperan penting untuk menampung dan menyerap air hujan. Berdasarkan data dari PKSA Ciliwung-Cisadane tahun 2008, di Jabodetabek terdapat 226 situ. Sayangnya, hanya 33 situ yang berada dalam kondisi baik. Sebanyak 144 berada dalam kondisi rusak, dan 49 berada dalam kondisi rehab.
Banyak juga situ-situ yang terancam menyempit atau bahkan hilang sepenuhnya, karena berubah menjadi kawasan perumahan.
7. Akar masalah banjir di Jakarta adalah terjadinya perubahan fungsi lahan tanpa memperhatikan kondisi ekosistem yang lestari.
Baik di kawasan hulu seperti Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang, maupun di kawasan hilir seperti Penjaringan, terjadi perubahan fungsi lahan besar-besaran yang mengabaikan keberlanjutan ekosistem. Berbagai kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta berubah menjadi kawasan perumahan maupun pusat perbelanjaan. Ini menyebabkan area resapan di Jakarta menyusut drastis.
Peraturan pemerintah Jakarta yang mewajibkan setiap pihak yang mendirikan bangunan untuk membuat sumur resapan juga kerap dilanggar. Selain itu, banyak juga pemilik rumah yang membuat perkerasan semen pada seluruh halaman rumah, sehingga air tidak bisa terserap ke dalam tanah. Secara akumulatif, semua ini memperparah banjir di Jakarta.
Sumber : Yahoo.com
Posted by
Muhammad Refel H
Reffel Rere. Diberdayakan oleh Blogger.
About Me
- Muhammad Refel H




